Nadhom Khoridatul bahiyah Terjemah Bahasa Indonesia
SILAKAN BLOK/SOROT KALIMAT ARAB/LATIN DI HALAMAN INI UNTUK DAPAT DIDENGARKAN (UNTUK PENGGUNA PC/ LAPTOP)
Pembaca sekalian berikut ini adalah Nadhom Kitab Khoridatul Bahiyah yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dalam Kurikulum FKDT Kabupaten Tegal kitab ini disampaikan di MDTA kelas 4 sebagai pelajaran Aqidah atau tauhid. Selamat membaca!
🎮 Uji Wawasanmu: Mainkan Kuis Sekarang!
Selesaikan bacaanmu, lalu klik tombol di atas untuk menguji pemahamanmu.
Arab Saja
+ Terjemah
Sembunyikan Ket
Tampil Semua Ket
✖
Keterangan Bait 1 :
Penulis memulai kitab ini dengan penuh kerendahan hati. Beliau menyebut dirinya sebagai hamba yang sangat mengharapkan rahmat Allah Al-Qadir (Maha Kuasa). Penulisnya adalah Syekh Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad ad-Dardir, ulama besar Mesir. "Dardir" adalah gelar kakek buyut beliau.
Keterangan Bait 2 :
Setiap perkara baik harus dimulai dengan tahmid. Di bait ini, disebutkan beberapa sifat kesempurnaan Allah: Al-Aliyy (Maha Tinggi dari kekurangan), Al-Wahid & Al-Fard (Maha Esa/Tunggal), Al-'Alim (Maha Mengetahui), Al-Ghaniyy (Maha Kaya, tidak butuh makhluk), dan Al-Majid (Maha Mulia).
Keterangan Bait 3 :
Rangkaian doa dilanjutkan dengan membaca shalawat (kasih sayang dan pengagungan dari Allah) serta salam (keselamatan) untuk Nabi Muhammad SAW. Al-Musthofa berarti manusia pilihan Allah, sedangkan Al-Karim berarti beliau memiliki akhlak dan keturunan yang sangat mulia.
Keterangan Bait 4 :
Doa ini juga ditujukan kepada keluarga dan sahabat Nabi yang Al-Ath-har (suci hatinya dari kesyirikan). Secara khusus, penulis memberi penghormatan kepada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat yang mempertaruhkan nyawa menemani Nabi bersembunyi di Gua Tsur saat hijrah.
Keterangan Bait 5 :
Kitab ini berisi Aqidah (keyakinan hati) yang Saniyyah (agung/terang). Syekh ad-Dardir menamainya Al-Kharidah Al-Bahiyyah. Al-Kharidah ibarat mutiara murni yang belum pernah disentuh (sangat berharga), sedangkan Al-Bahiyyah berarti cantik dan indah dipandang karena susunan syairnya yang mudah dihafal.
Keterangan Bait 6 :
Kitab syair ini bentuknya sangat ringkas agar terasa ringan dan mudah dihafalkan oleh anak-anak dan pemula. Walaupun tipis dan baitnya tidak banyak, namun isi keilmuannya sangatlah besar dan berbobot karena membahas pondasi paling penting dalam agama kita, yaitu Ilmu Tauhid.
Keterangan Bait 7 :
Jika seorang santri ingin memiliki bekal aqidah (keyakinan) yang kuat, maka memahami nadhom ini saja sebenarnya sudah sangat mencukupi. Kata Zubdah berarti sari pati atau inti yang berharga. Kitab ini merangkum seluruh inti sari Ilmu Tauhid secara padat dan jelas, tanpa berbelit-belit.
Keterangan Bait 8 :
Syekh ad-Dardir menunjukkan keikhlasan hatinya. Beliau menyusun kitab ini bukan untuk mencari ketenaran, melainkan semata-mata mengharapkan karyanya diterima sebagai amal sholeh, memberikan manfaat bagi umat, dan memohon ampunan Allah atas segala Zalal (kesalahan/kekeliruan) di dalamnya.
Keterangan Bait 9 :
Mulai bait ini kita masuk ke inti tauhid, yaitu mengenal Hukum Akal (penilaian akal sehat manusia). Hukum akal dibagi menjadi tiga. Dua di antaranya disebutkan di sini:
1. Wajib Aqli (menurut akal pasti ada). Contoh: Alam semesta pasti ada penciptanya.
2. Mustahil Aqli (menurut akal pasti tidak ada/tidak mungkin). Contoh: Angka 1 lebih besar dari 100.
1. Wajib Aqli (menurut akal pasti ada). Contoh: Alam semesta pasti ada penciptanya.
2. Mustahil Aqli (menurut akal pasti tidak ada/tidak mungkin). Contoh: Angka 1 lebih besar dari 100.
Keterangan Bait 10 :
Bagian ketiga adalah Jaiz Aqli. Artinya "Mungkin" atau "Boleh-boleh saja". Sesuatu yang menurut akal bisa saja terjadi atau tidak terjadi. Contoh: Besok pagi turun hujan.
Penulis berpesan agar kita benar-benar memahami tiga hukum ini. Jika paham, kita akan diberi "kenikmatan", yaitu kemudahan mencerna kebesaran Allah tanpa rasa bingung.
Penulis berpesan agar kita benar-benar memahami tiga hukum ini. Jika paham, kita akan diberi "kenikmatan", yaitu kemudahan mencerna kebesaran Allah tanpa rasa bingung.
Keterangan Bait 11 :
Berbeda dengan hukum akal sebelumnya, di sini disebutkan Wajib Syar'i (wajib menurut aturan agama yang berbuah pahala/dosa). Kewajiban pertama bagi seorang Mukallaf (orang Islam yang sudah berakal sehat dan baligh/dewasa) adalah Makrifatullah (Mengenal Allah).
Keterangan Bait 12 :
Bagaimana cara "Mengenal Allah"? Bukan dengan membayangkan wujud-Nya, melainkan dengan meyakini sifat-sifat-Nya. Kita wajib tahu mana Sifat Wajib (yang pasti ada pada Allah, seperti Wujud), Sifat Mustahil (yang pasti tidak ada pada Allah, seperti bodoh), dan Sifat Jaiz (kebebasan Allah untuk menciptakan sesuatu atau tidak).
Keterangan Bait 13 :
Kewajiban mengenal sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz ini juga berlaku untuk para Rasul utusan Allah. Di bait ini juga disisipkan anjuran untuk selalu mendoakan kesejahteraan, keselamatan, dan pemuliaan dari Allah bagi para Rasul setiap kali kita mengingat mereka, sebagai bentuk adab dan kecintaan kita.
Keterangan Bait 14 :
Syekh ad-Dardir memberikan pengertian resmi tentang apa itu Wajib Aqli. Yaitu sesuatu yang akal kita akan langsung menolak jika hal itu dibilang "tidak ada". Akal kita memaksa bahwa hal itu pasti ada.
Contoh: Adanya Allah sebagai Pencipta alam. Alam yang teratur ini tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa Pencipta.
Contoh: Adanya Allah sebagai Pencipta alam. Alam yang teratur ini tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa Pencipta.
Keterangan Bait 15 :
Pengertian Mustahil Aqli adalah kebalikan dari Wajib Aqli. Yaitu sesuatu yang akal sehat kita tidak akan pernah bisa menerima jika hal itu dibilang "ada" atau "terjadi".
Contoh: Seseorang berada di Kota Tegal dan Kota Jakarta pada detik yang sama persis. Akal kita pasti akan menolaknya dengan tegas karena itu sangat Mustahil.
Contoh: Seseorang berada di Kota Tegal dan Kota Jakarta pada detik yang sama persis. Akal kita pasti akan menolaknya dengan tegas karena itu sangat Mustahil.
Keterangan Bait 16 :
Ini adalah pengertian tentang Jaiz Aqli. Yaitu segala perkara yang menurut akal bisa saja "ada/terjadi" dan bisa juga "tidak ada/tidak terjadi" tanpa ada keraguan. Dua-duanya sama-sama masuk akal.
Contoh: Turun hujan di sore hari. Akal kita bisa menerima jika sore nanti hujan, tapi akal juga bisa menerima jika sore nanti cerah. Atau contoh lain: Seseorang tiba-tiba menjadi kaya raya.
Contoh: Turun hujan di sore hari. Akal kita bisa menerima jika sore nanti hujan, tapi akal juga bisa menerima jika sore nanti cerah. Atau contoh lain: Seseorang tiba-tiba menjadi kaya raya.
Keterangan Bait 17 :
Setelah paham hukum akal, sekarang kita belajar tentang alam. Apa itu alam? Alam adalah segala sesuatu selain Allah. Langit, bumi, manusia, hewan, tumbuhan, malaikat, dan jin, semuanya adalah bagian dari alam semesta.
Keterangan Bait 18 :
Alam semesta ini sifatnya Hadits (baru diciptakan) dan sangat butuh kepada Sang Pencipta. Darimana kita tahu bahwa alam ini baru? Karena alam selalu mengalami Perubahan. Misalnya: siang berubah menjadi malam, biji tumbuh menjadi pohon, atau manusia dari bayi berubah menjadi tua. Sesuatu yang berubah-ubah pasti ada yang mengaturnya.
Keterangan Bait 19 :
Penulis menjelaskan makna Hadits (Baru). Sesuatu disebut baru jika dulunya tidak ada, lalu menjadi ada (diciptakan). Sedangkan lawan dari sifat baru adalah Qidam (Dahulu/Tanpa Permulaan). Sifat Qidam ini hanyalah milik Allah semata, karena Allah sudah ada sebelum alam semesta ini ada.
Keterangan Bait 20 :
Mulai bait ini kita masuk ke pembahasan Sifat Wajib Allah yang berjumlah 20. Sifat yang pertama adalah Wujud (Ada). Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan berhak disembah, maka sangat wajib bagi-Nya memiliki sifat Wujud. Tidak mungkin Tuhan itu tidak ada.
Keterangan Bait 21 :
Dari mana kita tahu bahwa Allah itu Wujud (Ada)? Akal kita bisa melihat buktinya. Setiap ada bekas jejak kaki, pasti ada orang yang lewat. Setiap ada meja, pasti ada tukang kayu yang membuatnya. Begitu juga alam semesta yang luas dan rapi ini, sangat jelas menunjukkan adanya Sang Pencipta (Allah). Renungkanlah hal ini agar iman kita semakin kuat.
Keterangan Bait 22 :
Di dalam ilmu tauhid, 20 Sifat Wajib Allah dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Sifat Wujud (Ada) adalah satu-satunya sifat yang masuk dalam kelompok Sifat Nafsiyyah (sifat yang menunjukkan Dzat Allah itu sendiri). Setelah sifat Wujud, ada kelompok kedua yang terdiri dari 5 sifat, dan ini disebut kelompok Sifat Salbiyyah (sifat yang menolak kekurangan pada Allah).
Keterangan Bait 23 :
Apa saja 5 Sifat Salbiyyah itu? Tiga yang pertama disebutkan di sini:
1. Qidam (Terdahulu): Allah tidak punya permulaan. Allah sudah ada sebelum segala sesuatu ada.
2. Baqo' (Kekal Abadi): Allah tidak akan pernah mati atau hancur.
3. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri): Allah sama sekali tidak membutuhkan bantuan makhluk, tempat, atau apapun. Justru makhluklah yang butuh Allah.
1. Qidam (Terdahulu): Allah tidak punya permulaan. Allah sudah ada sebelum segala sesuatu ada.
2. Baqo' (Kekal Abadi): Allah tidak akan pernah mati atau hancur.
3. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri): Allah sama sekali tidak membutuhkan bantuan makhluk, tempat, atau apapun. Justru makhluklah yang butuh Allah.
Keterangan Bait 24 :
Lanjutan Sifat Salbiyyah yang ke-4 dan ke-5:
4. Mukhalafatu lil Hawadits: Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya. Allah tidak sama dengan manusia, malaikat, atau benda apa pun.
5. Wahdaniyyah: Allah itu Maha Esa (Satu/Tunggal). Allah Esa dalam Dzat-Nya (tidak tersusun dari bagian-bagian) dan Esa dalam Sifat-Nya (tidak ada yang menyamai sifat kehebatan Allah).
4. Mukhalafatu lil Hawadits: Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya. Allah tidak sama dengan manusia, malaikat, atau benda apa pun.
5. Wahdaniyyah: Allah itu Maha Esa (Satu/Tunggal). Allah Esa dalam Dzat-Nya (tidak tersusun dari bagian-bagian) dan Esa dalam Sifat-Nya (tidak ada yang menyamai sifat kehebatan Allah).
Keterangan Bait 25 :
Lanjutan dari sifat Wahdaniyyah: Allah juga Esa dalam Perbuatan-Nya (Af'al). Artinya, satu-satunya yang benar-benar bisa menciptakan, memberi rezeki, menyembuhkan penyakit, dan menggerakkan alam semesta ini hanyalah Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Makhluk tidak punya kekuatan apa-apa jika tidak diizinkan oleh Allah.
Keterangan Bait 26 :
Ini adalah peringatan keras! Jika ada orang yang meyakini bahwa suatu benda bisa memberi akibat dengan sendirinya (karena tabiat/wataknya) tanpa campur tangan Allah, maka ia bisa jatuh pada Kufur (keluar dari Islam).
Contoh salah: Meyakini bahwa api itu sendirinya yang membakar, atau obat itu sendirinya yang menyembuhkan, tanpa mengaitkannya dengan kehendak Allah.
Contoh salah: Meyakini bahwa api itu sendirinya yang membakar, atau obat itu sendirinya yang menyembuhkan, tanpa mengaitkannya dengan kehendak Allah.
Keterangan Bait 27 :
Ada juga orang yang meyakini: "Allah menitipkan kekuatan pada api, lalu setelah dititipkan, api itu membakar sendiri tanpa butuh izin Allah lagi saat itu". Keyakinan seperti ini disebut Bid'ah (sesat/menyimpang).
Keyakinan yang benar: Api bisa membakar semata-mata karena pada saat itu juga Allah yang menciptakan proses terbakarnya. Jangan sampai kita terpengaruh oleh keyakinan yang menyimpang ini.
Keyakinan yang benar: Api bisa membakar semata-mata karena pada saat itu juga Allah yang menciptakan proses terbakarnya. Jangan sampai kita terpengaruh oleh keyakinan yang menyimpang ini.
Keterangan Bait 28 :
Mari kita gunakan akal sehat. Andaikan Allah tidak memiliki 5 Sifat Salbiyyah tadi (Qidam, Baqo, dll), berarti Allah memiliki sifat yang sama seperti makhluk-Nya, yaitu Hadits (baru diciptakan). Dan akal sehat kita pasti menolak keras hal tersebut, karena mustahil Tuhan itu diciptakan. Maka, tetaplah lurus pada keyakinan yang benar!
Keterangan Bait 29 :
Kenapa mustahil Tuhan itu diciptakan? Karena jika Tuhan diciptakan, pasti ada yang menciptakan-Nya. Lalu siapa yang menciptakan si pencipta itu? Terus begitu tanpa ujung, ini disebut Tasalsul (rantai yang tidak pernah putus).
Atau Daur (berputar). Si A diciptakan Si B, dan Si B diciptakan Si A. Kedua hal ini sangatlah Mustahil. Maka kesimpulannya yang paling masuk akal: Allah itu Qidam (Sudah ada tanpa berawal dan tanpa ada yang menciptakan).
Atau Daur (berputar). Si A diciptakan Si B, dan Si B diciptakan Si A. Kedua hal ini sangatlah Mustahil. Maka kesimpulannya yang paling masuk akal: Allah itu Qidam (Sudah ada tanpa berawal dan tanpa ada yang menciptakan).
Keterangan Bait 30 :
Karena Allah bersih dari segala sifat kekurangan, maka pantaslah Allah dipanggil dengan nama-nama-Nya yang indah (Asmaul Husna):
• Al-Jalil (Maha Agung)
• Al-Jamil (Maha Indah sifat-Nya)
• Al-Waliyy (Maha Melindungi)
• Az-Zahir (Maha Nyata kekuasaan-Nya)
• Al-Quddus (Maha Suci dari segala kekurangan)
• Ar-Rabb Al-Aliyy (Tuhan Yang Maha Pemelihara lagi Maha Tinggi)
• Al-Jalil (Maha Agung)
• Al-Jamil (Maha Indah sifat-Nya)
• Al-Waliyy (Maha Melindungi)
• Az-Zahir (Maha Nyata kekuasaan-Nya)
• Al-Quddus (Maha Suci dari segala kekurangan)
• Ar-Rabb Al-Aliyy (Tuhan Yang Maha Pemelihara lagi Maha Tinggi)
Keterangan Bait 31 :
Syekh ad-Dardir menegaskan kembali kesucian Allah. Allah itu Munazzah (Maha Suci) dari sifat-sifat benda/makhluk.
• Allah tidak butuh tempat dan tidak punya arah (atas, bawah, kanan, kiri).
• Allah tidak menempel (menyatu) dengan makhluk, dan tidak juga terpisah seperti halnya benda fisik.
• Allah juga Maha Suci dari sifat Safah (bodoh atau ceroboh dalam berbuat). Semua perbuatan Allah pasti ada hikmahnya.
• Allah tidak butuh tempat dan tidak punya arah (atas, bawah, kanan, kiri).
• Allah tidak menempel (menyatu) dengan makhluk, dan tidak juga terpisah seperti halnya benda fisik.
• Allah juga Maha Suci dari sifat Safah (bodoh atau ceroboh dalam berbuat). Semua perbuatan Allah pasti ada hikmahnya.
Keterangan Bait 32 :
Setelah Sifat Nafsiyyah (1) dan Salbiyyah (5), sekarang kita masuk ke kelompok ketiga yaitu Sifat Ma'ani. Sifat Ma'ani jumlahnya ada 7.
Sifat Ma'ani yang pertama adalah Ilmu (Maha Mengetahui). Ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu secara sangat detail, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah.
Sifat Ma'ani yang pertama adalah Ilmu (Maha Mengetahui). Ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu secara sangat detail, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah.
Keterangan Bait 33 :
Lanjutan Sifat Ma'ani:
2. Hayat (Maha Hidup): Kehidupan Allah tidak berawal dan tidak berakhir, dan tidak dengan ruh.
3. Qudrat (Maha Kuasa): Allah berkuasa menciptakan dan menghancurkan apa saja.
4. Iradah (Maha Berkehendak): Apa pun yang terjadi di dunia ini—baik suka maupun duka—semuanya terjadi murni karena kehendak dan keputusan Allah.
2. Hayat (Maha Hidup): Kehidupan Allah tidak berawal dan tidak berakhir, dan tidak dengan ruh.
3. Qudrat (Maha Kuasa): Allah berkuasa menciptakan dan menghancurkan apa saja.
4. Iradah (Maha Berkehendak): Apa pun yang terjadi di dunia ini—baik suka maupun duka—semuanya terjadi murni karena kehendak dan keputusan Allah.
Keterangan Bait 34 :
Ini pelajaran penting! Kehendak Allah itu berbeda dengan Perintah Allah.
Contoh: Allah menyuruh kita rajin shalat (Perintah), tapi ada orang yang berbuat dosa dan meninggalkan shalat. Terjadinya dosa itu tetap atas izin/kehendak Allah (sebagai ujian), tapi Allah sangat membencinya (tidak memerintahkannya). Penulis berpesan: Tinggalkan perdebatan soal ini, cukup yakini saja!
Contoh: Allah menyuruh kita rajin shalat (Perintah), tapi ada orang yang berbuat dosa dan meninggalkan shalat. Terjadinya dosa itu tetap atas izin/kehendak Allah (sebagai ujian), tapi Allah sangat membencinya (tidak memerintahkannya). Penulis berpesan: Tinggalkan perdebatan soal ini, cukup yakini saja!
Keterangan Bait 35 :
Dari penjelasan Kehendak dan Perintah tadi, kejadian di dunia ini terbagi menjadi 4:
1. Diperintah & dikehendaki (Contoh: Imannya para sahabat Nabi).
2. Diperintah tapi tidak dikehendaki (Contoh: Dakwah kepada Abu Jahal, Allah suruh ia beriman tapi Allah tidak kehendaki ia beriman).
3. Dikehendaki tapi tidak diperintah (Contoh: Kemaksiatan).
4. Tidak dikehendaki & tidak diperintah (Contoh: Sesuatu yang mustahil).
Peliharalah adab (kedudukan) kita saat memahami rahasia takdir Allah ini.
1. Diperintah & dikehendaki (Contoh: Imannya para sahabat Nabi).
2. Diperintah tapi tidak dikehendaki (Contoh: Dakwah kepada Abu Jahal, Allah suruh ia beriman tapi Allah tidak kehendaki ia beriman).
3. Dikehendaki tapi tidak diperintah (Contoh: Kemaksiatan).
4. Tidak dikehendaki & tidak diperintah (Contoh: Sesuatu yang mustahil).
Peliharalah adab (kedudukan) kita saat memahami rahasia takdir Allah ini.
Keterangan Bait 36 :
Melanjutkan 7 Sifat Ma'ani:
5. Kalam (Berfirman): Allah Maha Berbicara/Berfirman tanpa suara dan tanpa huruf.
6. Sama' (Maha Mendengar): Pendengaran Allah sangat sempurna tanpa butuh telinga.
7. Bashar (Maha Melihat): Penglihatan Allah menembus segalanya tanpa butuh mata.
Kesimpulannya, Allah adalah Tuhan yang berbuat sesuai kehendak dan pilihan-Nya sendiri (Al-Mukhtar), tanpa ada yang bisa memaksa-Nya.
5. Kalam (Berfirman): Allah Maha Berbicara/Berfirman tanpa suara dan tanpa huruf.
6. Sama' (Maha Mendengar): Pendengaran Allah sangat sempurna tanpa butuh telinga.
7. Bashar (Maha Melihat): Penglihatan Allah menembus segalanya tanpa butuh mata.
Kesimpulannya, Allah adalah Tuhan yang berbuat sesuai kehendak dan pilihan-Nya sendiri (Al-Mukhtar), tanpa ada yang bisa memaksa-Nya.
Keterangan Bait 37 :
Di sini kita belajar istilah Ta'alluq (sasaran/kaitan fungsi). Sifat-sifat Ma'ani Allah itu memiliki sasaran atau fungsi yang berkaitan dengan makhluk atau alam semesta. Kita wajib meyakini bahwa semua Sifat Ma'ani itu memiliki Ta'alluq, Kecuali sifat Hayat (Hidup). Sifat hidup Allah hanya untuk Dzat-Nya sendiri, tidak ada sasarannya ke luar.
Keterangan Bait 38 :
Bagaimana sasaran/Ta'alluq dari sifat Ilmu dan Kalam?
Sifat Ilmu (Pengetahuan) dan Kalam (Firman) Allah itu sasarannya mencakup ketiga Hukum Akal (Wajib, Mustahil, Jaiz). Artinya: Allah mengetahui dan bisa membicarakan tentang diri-Nya (Wajib), tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi (Mustahil), dan tentang alam semesta/makhluk (Jaiz).
Sifat Ilmu (Pengetahuan) dan Kalam (Firman) Allah itu sasarannya mencakup ketiga Hukum Akal (Wajib, Mustahil, Jaiz). Artinya: Allah mengetahui dan bisa membicarakan tentang diri-Nya (Wajib), tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi (Mustahil), dan tentang alam semesta/makhluk (Jaiz).
Keterangan Bait 39 :
Bagaimana dengan sifat Qudrat dan Iradat?
Sifat Qudrat (Kuasa) dan Iradat (Kehendak) sasarannya HANYA pada perkara Mumkinat (Jaiz Aqli / makhluk yang mungkin terjadi). Wahai saudaraku, ingatlah bahwa kekuasaan Allah itu untuk menciptakan atau menghancurkan alam semesta. Kekuasaan Allah tidak berkaitan dengan sifat Mustahil (misal: bisakah Allah menciptakan Tuhan baru? Pertanyaan ini salah, karena Tuhan baru itu mustahil ada).
Sifat Qudrat (Kuasa) dan Iradat (Kehendak) sasarannya HANYA pada perkara Mumkinat (Jaiz Aqli / makhluk yang mungkin terjadi). Wahai saudaraku, ingatlah bahwa kekuasaan Allah itu untuk menciptakan atau menghancurkan alam semesta. Kekuasaan Allah tidak berkaitan dengan sifat Mustahil (misal: bisakah Allah menciptakan Tuhan baru? Pertanyaan ini salah, karena Tuhan baru itu mustahil ada).
Keterangan Bait 40 :
Lalu, bagaimana dengan sifat Sama' dan Bashar?
Mantapkanlah hatimu bahwa sasaran dari sifat Sama' (Mendengar) dan Bashar (Melihat) adalah kepada segala hal yang Maujud (yang ada). Apapun yang ada—baik itu bersuara atau diam, baik itu besar maupun sekecil debu di kegelapan—pasti terdengar dan terlihat oleh Allah secara sempurna.
Mantapkanlah hatimu bahwa sasaran dari sifat Sama' (Mendengar) dan Bashar (Melihat) adalah kepada segala hal yang Maujud (yang ada). Apapun yang ada—baik itu bersuara atau diam, baik itu besar maupun sekecil debu di kegelapan—pasti terdengar dan terlihat oleh Allah secara sempurna.
Keterangan Bait 41 :
Penulis menegaskan bahwa semua sifat Ma'ani yang 7 tadi (Ilmu, Hayat, Qudrat, Iradat, Kalam, Sama', Bashar) bersifat Qadim. Artinya, sifat-sifat itu sudah ada pada Dzat Allah tanpa ada permulaannya. Kenapa? Karena sifat Allah itu menyatu dengan Dzat Allah, tidak terpisah. Tidak pernah ada masa di mana Allah itu "belum mengetahui" atau "belum berkuasa".
Keterangan Bait 42 :
Ini hal yang sangat penting untuk diyakini! Sifat Kalam (Berfirman) Allah itu sama sekali tidak seperti manusia berbicara. Kalam Allah tidak berupa huruf, tidak berupa suara, dan tidak tersusun atas kata-kata (ada awalan dan akhiran). Lalu bagaimana dengan Al-Quran? Al-Quran yang kita baca dengan huruf Arab itu adalah "bukti/ungkapan" (dalil) yang menunjukkan kepada Kalam Allah yang suci tersebut.
Keterangan Bait 43 :
Setelah selesai membahas 20 Sifat Wajib Allah (yang mulia dan tinggi), sekarang kita harus tahu bahwa Sifat Mustahil adalah kebalikan dari Sifat Wajib tersebut. Jika Sifat Wajib ada 20, maka Sifat Mustahil juga ada 20.
Contoh: Wajib sifat "Wujud" (Ada), maka mustahil sifat "Adam" (Tidak ada). Wajib sifat "Ilmu" (Pintar/Mengetahui), maka mustahil sifat "Jahl" (Bodoh).
Contoh: Wajib sifat "Wujud" (Ada), maka mustahil sifat "Adam" (Tidak ada). Wajib sifat "Ilmu" (Pintar/Mengetahui), maka mustahil sifat "Jahl" (Bodoh).
Keterangan Bait 44 :
Kenapa Allah wajib memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan mustahil memiliki sifat kekurangan? Logikanya begini: Jika Allah tidak memiliki Sifat Wajib (misalnya: tidak Maha Berkuasa), maka otomatis Allah akan memiliki sifat lawannya (yaitu: Lemah). Dan ini sangat tidak masuk akal bagi seorang Tuhan.
Keterangan Bait 45 :
Lanjutan dari bait sebelumnya: Jika Allah memiliki sifat-sifat kekurangan/mustahil (seperti lemah, bodoh, atau mati), maka tentu Allah akan menjadi Faqir (sangat butuh bantuan makhluk). Padahal Tuhan Sejati adalah Dzat yang tidak butuh kepada siapa pun. Maka terbuktilah bahwa Allah Maha Suci dari segala Sifat Mustahil!
Keterangan Bait 46 :
Sebagai penutup dari pembahasan sifat Wajib dan Mustahil, ditegaskan kembali bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan satu-satunya yang berhak disembah. Allah itu Al-Ghaniyy (Maha Kaya) yang sama sekali tidak butuh bantuan malaikat, manusia, atau alam semesta. Allah juga Al-Muqtadir (Maha Berkuasa) atas segala sesuatu dengan seagung-agungnya.
Keterangan Bait 47 :
Setelah sifat Wajib dan Mustahil, kita wajib tahu Sifat Jaiz bagi Allah. Sifat Jaiz Allah hanya ada 1 (satu), yaitu: Allah memiliki kebebasan mutlak. Allah berhak menciptakan atau meniadakan sesuatu. Allah berhak memberikan kebahagiaan kepada seseorang, dan berhak juga memberikan kesulitan/ujian kepadanya sesuai kehendak-Nya yang maha adil.
Keterangan Bait 48 :
Hati-hati dalam berkeyakinan! Jika ada orang yang berkata: "Allah itu wajib/harus selalu memberikan yang enak-enak dan baik-baik saja kepada hamba-Nya", maka orang itu telah Su'ul Adab (tidak sopan/kurang ajar) kepada Allah. Mengapa? Karena tidak ada satu pun makhluk yang berhak mengatur, memaksa, atau mewajibkan sesuatu kepada Sang Pencipta.
Keterangan Bait 49 :
Wahai saudaraku, mantapkanlah keyakinan di dalam hatimu bahwa kelak di akhirat, orang-orang mukmin akan mendapatkan nikmat yang paling besar dan paling indah, yaitu: Bisa melihat Allah SWT di dalam Surga yang abadi. Melihat Allah ini tanpa batas waktu dan tanpa menyerupakan Allah dengan suatu bentuk (karena Allah Maha Suci dari bentuk fisik).
Keterangan Bait 50 :
Kenapa kita wajib meyakini bahwa manusia bisa melihat Allah di surga nanti? Karena hal tersebut adalah Jaiz Aqli (sangat bisa diterima oleh akal sehat). Selain itu, keyakinan ini juga didukung kuat oleh Dalil Naqli (bukti dari ayat suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang shahih).
Keterangan Bait 51 :
Setelah mengenal sifat-sifat Allah, sekarang kita wajib meyakini 4 Sifat Wajib bagi para Rasul utusan Allah, yaitu:
1. Amanah (Dapat dipercaya dan terjaga dari dosa).
2. Shidiq (Jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan).
3. Tabligh (Menyampaikan semua wahyu dari Allah tanpa ada yang disembunyikan).
4. Fathanah (Cerdas dan bijaksana).
1. Amanah (Dapat dipercaya dan terjaga dari dosa).
2. Shidiq (Jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan).
3. Tabligh (Menyampaikan semua wahyu dari Allah tanpa ada yang disembunyikan).
4. Fathanah (Cerdas dan bijaksana).
Keterangan Bait 52 :
Selain sifat wajib, ada 4 Sifat Mustahil bagi Rasul (kebalikan dari sifat wajib), yaitu: Khianat (curang), Kizib (berbohong), Kitman (menyembunyikan wahyu), dan Baladah (bodoh).
Rasul juga memiliki 1 Sifat Jaiz, yaitu memiliki sifat kemanusiaan biasa yang tidak menurunkan derajat mulia mereka. Contoh: Rasul juga makan, minum, tidur, menikah, merasa lelah, atau sakit yang tidak parah/menjijikkan.
Rasul juga memiliki 1 Sifat Jaiz, yaitu memiliki sifat kemanusiaan biasa yang tidak menurunkan derajat mulia mereka. Contoh: Rasul juga makan, minum, tidur, menikah, merasa lelah, atau sakit yang tidak parah/menjijikkan.
Keterangan Bait 53 :
Ingat bait 48 sebelumnya bahwa Allah tidak wajib berbuat sesuatu? Begitu juga dalam mengutus para Rasul. Mengutus para Nabi dan Rasul ke bumi bukanlah kewajiban bagi Allah, melainkan murni sebagai bentuk Tafadhdhul (kebaikan/karunia) dan rahmat dari Allah Yang Maha Mulia untuk menyelamatkan umat manusia dari kesesatan.
Keterangan Bait 54 :
Mulai bait ini kita diwajibkan beriman kepada hal-hal gaib yang terjadi di Hari Kiamat (Sam'iyyat). Kita wajib percaya akan adanya:
• Hisab: Perhitungan amal perbuatan manusia di dunia.
• Hasyr: Pengumpulan seluruh makhluk di Padang Mahsyar.
• Iqab: Hukuman atau siksaan bagi yang berbuat dosa.
• Tsawab: Pahala atau ganjaran bagi yang berbuat kebaikan.
• Hisab: Perhitungan amal perbuatan manusia di dunia.
• Hasyr: Pengumpulan seluruh makhluk di Padang Mahsyar.
• Iqab: Hukuman atau siksaan bagi yang berbuat dosa.
• Tsawab: Pahala atau ganjaran bagi yang berbuat kebaikan.
Keterangan Bait 55 :
Lanjutan keimanan pada Hari Kiamat. Kita juga wajib meyakini:
• Nasyr: Pembangkitan manusia dari alam kubur agar hidup kembali.
• Shirath: Jembatan yang membentang di atas neraka menuju surga.
• Mizan: Timbangan keadilan untuk menimbang amal baik dan buruk.
• Haudh: Telaga Nabi Muhammad SAW yang airnya sangat segar.
• Serta meyakini adanya Neraka (tempat balasan buruk) dan Surga (tempat kebahagiaan abadi).
• Nasyr: Pembangkitan manusia dari alam kubur agar hidup kembali.
• Shirath: Jembatan yang membentang di atas neraka menuju surga.
• Mizan: Timbangan keadilan untuk menimbang amal baik dan buruk.
• Haudh: Telaga Nabi Muhammad SAW yang airnya sangat segar.
• Serta meyakini adanya Neraka (tempat balasan buruk) dan Surga (tempat kebahagiaan abadi).
Keterangan Bait 56 :
Selain beriman kepada kiamat, kita juga wajib beriman akan adanya hal-hal gaib lainnya:
• Jin (makhluk gaib dari api) dan Malaikat (makhluk gaib dari cahaya yang selalu taat).
• Para Nabi (utusan Allah).
• Bidadari dan Wildan (pelayan-pelayan di surga yang tidak pernah menua).
• Para Wali/Aulia (orang-orang saleh yang menjadi kekasih Allah karena ketaatannya).
• Jin (makhluk gaib dari api) dan Malaikat (makhluk gaib dari cahaya yang selalu taat).
• Para Nabi (utusan Allah).
• Bidadari dan Wildan (pelayan-pelayan di surga yang tidak pernah menua).
• Para Wali/Aulia (orang-orang saleh yang menjadi kekasih Allah karena ketaatannya).
Keterangan Bait 57 :
Secara umum, kita wajib meyakini dan membenarkan segala sesuatu yang dibawa oleh Al-Basyir (Nabi Muhammad SAW yang membawa kabar gembira). Terutama hukum-hukum agama yang sifatnya Dharuri (sudah sangat jelas dan diketahui semua orang Islam), seperti wajibnya shalat 5 waktu, wajibnya puasa Ramadhan, atau haramnya mencuri dan minum khamr.
Keterangan Bait 58 :
Tahukah kamu? Semua panjang lebar pelajaran Tauhid yang sudah kita bahas (tentang sifat Allah, sifat Rasul, hingga alam gaib dan hari kiamat), semuanya terangkum dan tersimpan dalam satu kalimat yang sangat mulia, yaitu Kalimat Islam: "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah).
Keterangan Bait 59 :
Karena kalimat Laa ilaha illallah merangkum semua keimanan kita, maka perbanyaklah membacanya (berdzikir) dalam kehidupan sehari-hari. Tapi ingat, bacalah dengan Adab (sopan santun, hati yang ikhlas, dan merenungkan maknanya). Jika kita rajin berdzikir dengan adab, Allah akan mengangkat derajat kita ke tempat yang sangat tinggi dan mulia.
Keterangan Bait 60 :
Mulai bait ini kita diajarkan menata hati (Tasawuf). Di masa sehat, kita harus memperbesar rasa Khauf (takut akan dosa dan siksa Allah) agar kita tidak berani maksiat. Namun kita juga harus punya Raja' (harapan atas rahmat Allah) agar tidak putus asa. Berjalanlah terus mendekat kepada Allah dengan beribadah tanpa rasa lalai atau malas.
Keterangan Bait 61 :
Sebagai manusia, kita pasti pernah berbuat salah. Maka, perbaruilah selalu niat Taubat kita kepada Allah. Menyesallah, tinggalkan dosa itu, dan berjanji tidak mengulanginya. Sebesar apa pun dosa yang pernah kita lakukan, jangan pernah putus asa, karena Allah itu Al-Ghaffar (Maha Pengampun) yang kasih sayang-Nya jauh lebih besar dari murka-Nya.
Keterangan Bait 62 :
Kunci kebahagiaan hidup seorang muslim ada dua:
Pertama, menjadi orang yang Syakur (Banyak Bersyukur) ketika mendapat nikmat (kesehatan, rezeki, kepintaran). Syukur dilakukan dengan mengucapkan Alhamdulillah dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan.
Kedua, menjadi orang yang Shabur (Sangat Sabar) ketika mendapat ujian atau musibah, dengan tidak mengeluh dan tetap berbaik sangka kepada Allah.
Pertama, menjadi orang yang Syakur (Banyak Bersyukur) ketika mendapat nikmat (kesehatan, rezeki, kepintaran). Syukur dilakukan dengan mengucapkan Alhamdulillah dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan.
Kedua, menjadi orang yang Shabur (Sangat Sabar) ketika mendapat ujian atau musibah, dengan tidak mengeluh dan tetap berbaik sangka kepada Allah.
Keterangan Bait 63 :
Kita wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini sudah diatur oleh Qadha dan Qadar (Takdir) Allah sejak zaman dahulu. Jika Allah sudah menakdirkan sesuatu terjadi pada diri kita, entah itu kebaikan atau keburukan, maka tidak ada satu manusia pun yang bisa lari atau menghindar darinya.
Keterangan Bait 64 :
Karena segala sesuatu sudah ditakdirkan Allah, maka sikap terbaik kita adalah Berserah diri (Rida dan Tawakal) terhadap keputusan Allah, agar hati kita tenang dan selamat dari rasa kecewa. Selain itu, ikutilah jejak langkah para Ulama yang mengamalkan ilmunya (ahli ibadah), karena mereka adalah pewaris para Nabi.
Keterangan Bait 65 :
Syekh ad-Dardir berpesan agar kita memurnikan hati dari Al-Aghyar (segala hal urusan dunia yang melalaikan kita dari mengingat Allah). Bagaimana cara membersihkan hati? Yaitu dengan bersungguh-sungguh (disiplin beribadah) dan rajin bangun di sepertiga malam terakhir (waktu sahur) untuk melaksanakan Shalat Tahajud dan berdoa.
Keterangan Bait 66 :
Selain shalat malam, cara membersihkan hati adalah dengan selalu Tafakur (memikirkan keindahan ciptaan Allah agar iman bertambah) dan Berdzikir (mengingat Allah setiap saat). Namun, dzikir kita tidak akan sempurna jika tidak disertai dengan usaha keras untuk menjauhi segala macam maksiat dan dosa.
Keterangan Bait 67 :
Tanamkanlah sifat Muraqabah di dalam hati kita. Muraqabah artinya kita selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah di mana pun kita berada dan dalam keadaan apa pun (saat ramai maupun saat sendirian). Jika kita sudah merasa selalu diawasi Allah, maka kita akan mencapai derajat keimanan dan akhlak yang paling luhur (sempurna).
Keterangan Bait 68 :
Di akhir nasehatnya, Syekh ad-Dardir mengajarkan doa yang sangat indah. Berdoalah dengan penuh rasa butuh dan rendah diri: "Ya Allah Tuhanku, janganlah Engkau putuskan hubunganku dengan-Mu karena suatu dosa, dan janganlah Engkau jauhkan aku dari rahmat-Mu."
Keterangan Bait 69 :
Lanjutan doa: "Jangan jauhkan aku dari cahaya hidayah-Mu yang sangat indah, yang bisa menghilangkan kebodohan dan kegelapan hatiku. Dan ya Allah Yang Maha Penyayang, wafatkanlah kami dalam keadaan Husnul Khatimah (akhir hidup yang baik membawa iman)."
Keterangan Bait 70 :
Penulis menutup kitab ini sebagaimana beliau membukanya pada bait pertama, yaitu dengan mengucap Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) karena berkat pertolongan-Nya kitab nadhom yang sangat bermanfaat ini bisa selesai dengan sempurna. Dan tidak lupa beliau mengirimkan sebaik-baik shalawat dan salam... (bersambung ke bait terakhir).
Keterangan Bait 71 :
...Semoga shalawat dan salam tersebut selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi yang paling akhir (penutup para nabi), yang berasal dari keturunan mulia Bani Hasyim. Dan semoga juga tercurah kepada seluruh keluarga serta sahabat-sahabat beliau yang sangat mulia budi pekertinya. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Maaf, terjemahannya sulit dipahami
BalasHapusTerima kasih atas masukannya, alhamdulillah sudah ada perbaikan terjemah, mudah-mudahan sedikit lebih bisa dipahami, mohon maaf baru sempat memperbaiki
BalasHapusMa'af sepertinya ada salah satu NADZOM yang kalimatnya kirang / hilang...
BalasHapusAlhamdulillah pada bait والمستـحـيـل كـــل مـــا لم يـقـبـل yang tadinya kurang kata لم sudah dilengkapi.
HapusMaturnuwun koreksinya yai, insya Allah nanti saya cek kembali
BalasHapusem itu nadzom nyaa ada yang di tambah kah
BalasHapusTidak ada tambahan, mungkin kaka lihat di kitab makna gandul halaman 8 min goiri syakkin dan Li annahu... tidak ada makna gandulnya, padahal itu termasuk nadzom
Hapusouh ngih ustad
BalasHapus